Diaphragm Stetoskop Cara Merawat dan Membersihkannya

Diaphragm stetoskop disebut juga dengan membran stetoskop. Diaphragm stetoskop ini merupakan bagian dari stetoskop. Diaphragm stetoskop merupakan bagian dari stetoskop yang bersentuhan langsung pada permukaan kulit. Diaphragm stetoskop dalam bahasa Indonesia disebut juga dengan diafragma stetoskop. Fungsi dari bagian stetoskop ini ialah untuk menyalurkan suara atau nada pada bagian tubuh yang memiliki frekuensi tinggi ke telinga pendengar.

Stetoskop merupakan bagian dari alat kesehatan yang paling sering digunakan oleh para dokter dalam melakukan pemeriksaan fisik untuk menegakkan suatu diagnosis. Sehingga stetoskop ini menjadi ciri khas dari profesi kedokteran karena stetoskop tersebut sering digunakan terutama dengan cara digantungkan pada leher dokter atau pemeriksa sehingga mudah untuk dibawa kemana saja. Bagian-bagian dari stetoskop itu sendiri terdiri dari diaphragm stetoskop.


 Stetoskop animal thame

Stetoskop dewasa dual head

Cara Membersihkan Diaphragm Stetoskop

Seperti yang kita ketahu pada artikel sebelumnya, pemakaian stetoskop yang berulang pada pasien yang berbeda dapat membbuat stetoskop terkontaminasi oleh bakteri yang berasal dari kulit pasien. bagian dari stetoskop yang paling banyak terkontaminasi oleh bakteri adalah bagian diaphragm stetoskop. Penelitian di Swiss menunjukkan bahwa diaphragm stetoskop memiliki bakteri yang lebih tinggi dibandingkan pada tangan pemeriksa yang menggunakan stetoskop tersebut. Selain itu, bagian diaphragm dari stetoskop tersebut memiliki tingkat kolonisasi yang tinggi.

Dari hasil penelitian tersebut maka muncullah suatu implikasi yang berkaitan dengan pasien, khususnya tentang cara menghindari terjadinya perpindahan kuman dari pasien satu ke pasien lainnya akibat penggunaan stetoskop ini. Sehingga peneliti tersebut menyarankan kepada para pengguna stetoskop atau dokter untuk mendekontaminasi stetoskopnya atau melakaukan desinfeksi terutama pada bagian diaphragm stetoskop. Karena disitulah merupakan tempat bersarangnya kuman.

Pada umumnya para pengguna stetoskop atau tenaga kesehatan sebanyak 48% membersihkan stetoskop setiap hari atau setiap minggu, kemudian sebanyak 37% tenaga kesehatan atau pengguna stetoskop membersihkan stetoskop yang mereka pakai setiap bulan, sebanyak 7% tenaga kesehatan atau pengguna stetoskop membersihkan stetoskop mereka setiap tahun, dan sebayak 7% tenaga kesehatan atau pengguna stetoskop tidak pernah membersihkan stetoskop. Padahal dengan membersihkan diaphragm stetoskop dapat mengurangi kolonisasi bakteri yang ada pada stetoskop khususnya pada bagian diaphragm stetoskop. Apabila pembersihan diaphragm stetoskop dilakukan dengan menggunakan alkohol maka akan dapat mengurangi bakteri sebesar 94%, apabila menggunakan deterjen non-ionik maka dapat mengurang bakteri sebesar 90% dan apabila pembersihan dilakukan dengan menggunaka sabun antiseptik maka akan dapat mengurangi bakteri sebesar 75%.

Cara membersihkannya pun belum ada standar baku yang mengaturnya. Namun disini akan di paparkan tentang cara membersihkan diaphragm stetoskop agar dapat menghilangkan kuman bakteri pada diaphragm stetoskop. Cara yang dilakukan untuk menghilangkan kuman bakteri pada diaphragm stetoskop ialah dengan mengusap seluruh permukaan diaphragm stetoskop dengan menggunakan alkohol isopropyl 70 %. Selain bagian dari diaphragm stetoskop yang dibersihkan, bersihkan juga bagian dari bell stetoskop. Hanya bagian diaphragm stetoskop dan bell stetoskop yang dibersihkan dengan menggunakan alkohol isopropyl 70%. Apabila hal ini dapat dilakukan dnegan benar, maka akan dapat mengurangi jumlah bakteri sampai dengan 94%.

Yang perlu dihindari dalam membersihkan diaphragm stetoskop ialah jangan membersihkan diaphragm stetoskop dengan cara memasukannya ke dalam cairan apapun atau terkena proses sterilisasinya. Alkohol merupakan agen pembersih yang efektif, namun dapat mengeringkan segel karet stetoskop dan merusak pipa apabila digunakan secara rutin. Maka gunakanlah alkohol apabila proses desinfektan diperlukan.





Oleh : Bidan Rina Widyawati

Sumber :
  • ncbi.nlm.nih.gov




Terima kasih untuk Like/comment FB :