Stetoskop Kuno Monoaural (Sejarah Stetoskop)

Stetoskop kuno yang dibuat pada zaman terdahulu masih bersifat sederhana dan menghasilkan suara yang belum begitu jelas. Sehingga pemeriksa atau pengguna stetoskop kuno pada masa itu dapat menjadi salah tafsir terhadap suara yang didengarkannya. Stetoskop kuno yang dibuat pada masa itu masih hanya berupa sebuah tabung kosong yang hanya menghubungkan telinga pendengar pada area tubuh pasien dan paling sering digunakan pada area tubuh seperti dada. Karena pada tempat atau area tubuh seperti dada pemeriksa akan mendapatkan suara yang jelas sedangkan pada area tubuh lain akan terdengar kurang jelas.


 Stetoskop kuna masih sederhana

 Stetoskop monoaural atau lynex masih digunakan hingga kini

Stetoskop fetal moderen untuk pemeriksaan janin dalam kandungan

Stetoskop Kuno Monoaural

Stetoskop kuno mooaural ini diciptakan oleh Laennec, yang merupakan seorang ilmuwan yang berasal dari Perancis pada tahun 1816. Stetoskop kuno monoaural ini sekarang hanya bagian dari sejarah karena sudah tidak dipergunakan lagi dalam melakukan pemeriksaan fisik. Stetoskop kuno monoaural ini memiliki bentuk yang sederhana sekali. Bentuknya seperti sebuah corong yang memiliki lubang. Mungkin pada saat ini corong tersebut dapat diibaratkan seperti monoaural kebidanan yang biasanya digunakan untuk mendengarkan denyut jantung janin pada pemeriksaan kehamilan.

Jelas apabila masih menggunakan stetoskop kuno monoaural yang masih berupa corong sederhana tidak akan dapat mengidentifikasi bunyi atau suara yang dihasilkan pada titik-titik tertentu. Terutama titik yang menhasulkan suara dengan frekuensi yang rendah yang dapat didengarkan dengan menggunakan stetoskop modern. Namun tidak semua stetoskop modern memiliki kualitas yang baik. Karena sebagain stetoskop yang ada pada saat ini tidak mampu menghantarkan suara dengan frekuensi diatas 3000 siklus per detik (spd) dan kebanyakan stetoskop tersebut mulai berhenti menghantarkan frekuensi diatas 1000 spd. Semua alat tersebut memiliki puncak amplifikasi. Walaupun terdapat beberapa model stetoskop yang mempunyai membran, nampaknya mampu menghantarkan suara dengan frekuensi yang lebih tinggi. Stetoskop modern tersebut bersifat demikian dengan menaring keluar komponen-komponen suara yang mempunyai frekuensi yang lebih rendah.

Stetoskop kuno monoaural dahulu dibuat berdasarkan pengalaman dan kebutuhan dalam melakukan pemeriksaan fisik pada masa itu. Dahulu dalam melakukan pemeriksaan fisik khususnya untuk mengetahui bunyi yang dihasilkan oleh jantung, para pemeriksa harus menempelkan langsung pendengaran atau telinga mereka pada bagian dada pasien. hal ini dikatakan kurang etis apabila dilakukan oleh pemeriksa dengan jenis kelamin laki-laki dan pasiennya memiliki jenis kelamin perempuan atau sebaliknya. Sehingga diperlukan suatu perantara yang dapat menhalangi agar tidak langsung menempelkan telinga pemeriksa pada dada pasien. selain itu diperlukan pula suatu alat untuk memeprjelas bunyi yang di dengar. Oleh karena alasan tersebut maka dibuatlah suatu alat stetoskop kuno yang masih berbentuk seperti corong terbuka.

Walaupun stetoskop kuno pada zaman dulu masih hanya berupa corong atau tabung, namun penemuan ini mendorong para generasi selanjutnya untuk mengembangkan alat tersebut. Pengembangan stetoskop kuno yang beralih menjadi stetoskop modern dilakukan secara bertahap bahkan membutuhkan waktu yang lama bahkan sampai berabad-abad.

Sejarah mengenai stetoskop kuno monoaural yang ditemukan oleh Laennec akan tetap terus menjadi sejarah sebuah penemuan yang akan selalu diingat. Karena tanpa ditemukannya stetoskop kuno monoaural ini mungkin stetoskop modern pada zaman sekarang tidak akan pernah ditemukan dan teknik pemeriksaan fisik yang digunakan untuk memeriksa jantung masih dilakukan dengan cara menempelkan telinga pemeriksa pada dada pasien. Untuk itu sebagai generasi penerus mari kita lestarikan sejarah dan kembangkan penemuan demi kepentingan umat.





Oleh : Bidan Rina Widyawati

Sumber :
  • Buku Major Diagnosis Fisik




Terima kasih untuk Like/comment FB :