Mendengarkan Bunyi Jantung dengan Stetoskop

Pemeriksaan auskultasi yang paling sering dilakukan ialah mendengarkan bunyi jantung dengan stetoskop. Mendengarkan bunyi jantung dengan stetoskop ini bertujuan untuk mengidentifikasi bunyi atau suara yang dihasilkan oleh organ jantung apakah tergolong ke dalam bunyi yang normal atau tidak. Apabila oleh pemeriksa ditemukan dan dicurigai bahwa terdapat bunyi jantung yang tidak normal, maka diperlukan pemeriksaan penunjang lain untuk menegakkan diagnosa.

Mendengarkan bunyi jantung dengan stetoskop dilakukan pada saat pemeriksaan fisik. Baik pasien anak-anak, dewasa maupun pasien lainnya diperiksa bagian jantungnya. Mendengarkan bunyi jantung dengan stetoskop menjadi pemeriksaan auskultasi yang sangat penting dan tidak boleh untuk dilewatkan. Mendengarkan bunyi jantung dengan stetoskop menjadi bagian dari pemeriksaan terfokus selain dari pemeriksaan auskultasi paru-paru.



Stetoskop cardiology untuk pemeriksaan jantung

Cara Mendengarkan bunyi jantung dengan Stetoskop

Cara mendengarkan bunyi jantung dengan stetoskop pada umumnya sama seperti kita mendengarkan bunyi paru-paru. Hanya saja area penempatan stetoskop untuk mendengarkan bunyi jantung dengan stetoskop berbeda dengan kita memeriksa bunyi paru-paru. Cara mendengarkan bunyi jantung dengan stetoskop meliputi langkah-langkah sebagai berikut :
  1. Cara mendengarkan bunyi jantung dengan stetoskop yang pertama ialah meletakkan diafragma di atas area jantung pasien. posisikan bagian diafragma stetoskop di bagian kiri atas dada diantara rusuk ke-4 dan ke-6, sedikit di bawah puting susu. Kemudian setelah diletakkan, tahan stetoskop diantara jari telunjuk dan jari tengah pemeriksa, berikan sedikit tekanan sehingga pemeriksa yang melakukan ini tidak mendengar bunyi gesekan jari-jari tangan pemeriksa itu sendiri.
  2. Cara mendengarkan bunyi jantung dengan stetoskop yang kedua ialah mendengarkan bunyi yang dihasilkan oleh organ jantung selama satu menit penuh. Pada saat mendengarkan bunyi jantung dengan stetoskop, perintahkan pasin untuk bernapas relaks, dan bernapas normal. Pemeriksa akan mendengarkan bunyi jantung manusia yang bunyinya seperti “lub-dub”. Bunyi ini disebut juga sebagai sistolik dan diastolik. Sistolik merupakan cerminan dari bunyi “lub” sedangkan diastolik merupakan cerminan dari bunyi “dub”. Pada saat mendengarkan bunyi jantung dengan stetoskop akan terdengar bunyi “lub” atau sistolik yang terjadi saat katup mitral dan trikuspid jantung menutup. Selain itu, saat mendengarkan bunyi jantung dengan stetoskop juga akan terdengan bunyi “dub” atau diastolik yang terdengar saat katup aorta dan pulmonal menutup.
  3. Cara mendengarkan bunyi jantung dengan stetoskop ialah menghitung detak jantung yang di dengar dalam waktu satu menit penuh. Normalnya dnyut jantung berdetak pada orang dewasa dalam kondisi istirahat atau tidak beraktivitas berkisar diantara 60-100 kali per menit. Untuk atlet profesional denyut jantungnya akan berdetak diantara 40-60 kali per menit dalam waktu istirahat. Terdapat beberapa klasifikasi nilai batasan mengenai detak jantung untuk pasien dengan usia di bawah 10 tahun yang dapat dipertimbangkan. Nilai-nilai batasan tersebut yaitu pada bayi baru lahir sampai usia satu bulan berdetak 70-190 dnyut per menit, pada bayi usia 1-11 bulan berdetak 80-160 kali per menit, pada anak usia 1-2 tahun berdetak 80-130 kali per menit, anak usia 3-4 tahun berdetak 80-120 kali per menit, anak usia 5-6 tahun75-115 kali per menit, anak usia 7-9 tahun berdetak 70-110 kali per menit.
  4. Cara mendengarkan bunyi jantung dengan stetoskop yang terakhir yaitu mendengarkan adanya bunyi jantung abnormal. Bunyi jantung selain bunyi lub dan dub dapat diklasifikasikan sebagai bunyi jantung yang abnormal.




Oleh : Bidan Rina Widyawati

Sumber :
  • ncbi.nlm.nih.gov




Terima kasih untuk Like/comment FB :