Mendengarkan Bunyi Paru-paru dengan Stetoskop

Salah satu pemeriksaan auskultasi yang paling sering dilakukan adalah mendengarkan bunyi paru-paru dengan stetoskop. Mendengarkan bunyi paru-paru dengan stetoskop telah menjadi bagian dari pemeriksaan fisik secara terfokus. Mendengarkan bunyi paru-paru dengan stetoskop dilakukan untuk mengidentifikasi keadaan dari sistem pernapasan dan organ paru-paru. Apakah terdapat gangguan pada sistem dan organ tersebut.

Mendengarkan bunyi paru-paru dengan stetoskop juga dilakukan berdasarkan adanya indikasi untuk melakukan auskultasi pada organ paru-paru. Misalkan saja terdapat pasien yang datang dengan keluhan sesak napas. Yang harus dicurigai dari pasien tersebut ialah adanya gangguan dari sistem pernapasannya sehingga harus mendengarkan bunyi paru-paru dengan stetoskop. Selain mendengarkan bunyi paru-paru sengan stetoskop untuk menegakkan diagnosa pada pasien dengan gangguan pada sistem pernapasan, diperlukan juga pemeriksaan penunjang lainnya untuk mendukung penegakkan diagnosa misalnya pemeriksaan rontgen.



 Stetoskop akustik ABN Majestic

Pemeriksaan kesehatan menggunakan stetoskop

Cara Mendengarkan Bunyi Paru-paru dengan Stetoskop

Pada umumnya cara mendengarkan bunyi paru-paru dengan stetoskop hampir sama dengan cara mendengarkan bunyi jantung yaitu dengan melakukan auskultasi pada daerah dada. Namun, cara mendengarkan bunyi paru-paru dengan stetoskop dilakukan pada area tertentu khususnya pada area yang merupakan lokasi dari organ paru-paru. Cara mendengarkan bunyi paru-paru dengan stetoskop meliputi langkah-langkah sebagai berikut :
  1. Langkah pertama dari cara mendengarkan bunyi paru-paru dengan stetoskop ialah memposisikan pasien pada posisi duduk dan meminta pasien untuk bernapas dengan normal. Saat sedang memeriksa atau mendengarkan bunyi paru-paru dengan stetoskop, pemeriksa meminta pasien untuk bernapas lebih dalam apabila pemeriksa tidak dapat mendengar buni napas atau bila bunyi yang dihasilkan terlalu kecil untuk menentukan jika terdapat kelainan.
  2. Langkah kedua dari cara mendengarkan bunyi paru-paru dengan stetoskop ialah dengan menggunajan diafragma stetoskop. Mendengarkan bunyi paru-paru dengan stetoskop akan lebih tepat apabila menggunakan bagian diafragma stetoskop. Tempatkan diafragma stetoskop di lobus atas dan bawah, serta di bagian depan dan belakang tubuh pasien. saat pemeriksa mendengarkan bunyi paru-paru dengan stetoskop, letakkan stetoskop di bagian atas dada, lalu di garis mid klavikula atau pertengahan tulang selangka dan kemudian di bagian bawah dada. Pastikan pemeriksa dapat mendengar bunyi pada semua area ini. Kemudian pastikan pula untuk membandingkan bunyi paru-paru di kedua sisi dan perhatikan bila tidak ada yang normal. Dengan memeriksa semua area ini, pemeriksa akan dapat mendengarkan bunyi paru-paru dengan stetoskop pada semua lobus paru-paru pasien.
  3. Langkah ketiga dari cara mendengarkan bunyi paru-paru dengan stetoskop ialah mendengarkan bunyi napas normal. Bunyi napas normal akan terdengar dengan jelas seperti seeorang yang meniup udara ke cangkir. Terdapat 2 jenis pernapasan normal yaitu bunyi pernapasan bronkial dan bunyi pernapasan vesikular.
  4. Langkah keempat dari cara mendengarkan bunyi paru-paru dengan stetoskop ialah dengan mendengarkan bunyi pernapasan yang abnormal. Bunyi pernapasan yang abnormal diantaranya ialah wheezing atau mengi, stridor, ronchi, dan rales. Bunyi wheezing menyerupai bunyi bernada tinggi saat orang mengembuskan napas, kadang juga saat orang tersebut menghirup napas. stridor menyerupai pernapasan “musikal” bernada tinggi (mirip dengan wheezing) yang sering terdengar saat pasien menghirup napas. Bunyi rhonchi menyerupai bunyi dengkuran. Dan bunyi rales menyerupai bunyi letusan plastik gelembung atau bunyi derikan di paru-paru. Bunyi Apabila pemeriksa tidak mendnegarkan bunyi pernapasan, maka kemungkinan pasien mengalami kondisi dimana paru-paru terisi udara atau cairan sehingga dinding di sekitar dada menebal, aliaran udara pernapasan melambat atau pemompaan paru-paru yang berlebih.



Oleh : Bidan Rina Widyawati

Sumber :
  • ncbi.nlm.nih.gov




Terima kasih untuk Like/comment FB :